Monday, November 23, 2009

Perkembangan Ekonomi komunitas Orang Madura di Sumbawa, NTB: Sebuah Analisis Kapital Sosial (Resensi)

Resensi Koran
“Perkembangan Ekonomi komunitas Orang Madura di Sumbawa, NTB:
Sebuah Analisis Kapital Sosial”
Oleh:
Mhd. Zuchri Fachrun
Perbankan Syari’ah 7D

Peneliti adalah Sambirang Nugroho: Peneliti pada Institute for Strategy and Competitiveness (ISC), Program Pasca Sarjana Ilmu Manajemen FE-UI.


Assalamualaikum Wr. Wb.

             Artikel ini mengupas tentang bagaimana seluk beluk orang Madura di Sumbawa, NTB, mulai dari kedatangan mereka ke Sumbawa sampai kemajuan yang mereka alami baik di bidang social terlebih di bidang ekonomi. Dikatakan bahwa orang-orang Madura merupakan orang-orang yang secara ekonomi relative maju dan kompak secara social. Orang Madura yang tinggal di Sumbawa termasuk migrant yang sukarela yang telah mengalami proses interaksi yang panjang dengan dan dalam lingkungan Sumbawa , karena itu etos kerja mereka juga tinggi seperti suku-suku lainnya seperti suku minang dan suku-suku lainnya. 

             Mereka, orang-orang Madura tersebut memiliki trade market sebagai pedagang makan dan minuman tertentu, yaitu soto, sate, dan es campur dimana mereka mendominasi produk-produk market tersebut dan berhasil meraup kesuksesan. Tingkat pendidikan mereka memang tidak tinggi bahkan relative rendah, tapi mereka mempunyai kegigihan dan kekompakan yang luar biasa. Moral islam yang tinggi juga menjadi kunci kesuksesan orang Madura di Sumbawa. Hal ini terbukti bahwa perilaku ekonomi orang-orang Madura di Sumbawa secara kuat sekali dipengaruhi oleh persepsi dan keyakinan mereka terhadap nilai-nilai agama islam yang mereka anut. Dalam diri orang-orang Madura tertanam keyakinan bahwa “ Islam menganjurkan kita kaya. Untuk menjadi kaya kita harus bekerja keras agar kita bias berderma kepada yang miskin. Selain harus bekerja keras, kita juga harus jujur”.
Kerja keras dan jujur begitu sangat ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anak generasi muda Madura di Sumbawa sehingga boleh dibilang tidak ada anak muda yang menganggur. Selalu ditanamkan kepada mereka agar bekerja apa saja. Yang penting halal dan jangan merepotkan atau tergantung dengan birokrasi. Sehingga tidak mengherankan kalau kebanyakan orang-orang Madura memilih untuk berdagang atau berwirausaha ketimbang bekerja di suatu instansi, di samping karena pendidikan mereka yang juga memang rendah.

             Namun demikian, interaksi berupa kekompakan yang mereka tunjukkan dan kegigihan mereka dalam bekerja tidak akan membuahkan kesuksesan andaisaja masyarakat asli yaitu masyarakat suku Sumbawa tidak welcome akan kedatangan mereka. Sebaliknya, masyarakat Sumbawa sangat terbuka menerima orang-orang Madura tersebut. Seperti yang dipaparkan peneliti, Mereka, orang Sumbawa memberikan fasilitas berupa tanah dan tempat tinggal bagi orang-orang Madura tersebut dan bahkan mau memberikan fasilitas berupa daerah perdagangan kepada mereka, orang-orang Madura itu, untuk memulai dan mengembangkan perniagaan mereka. 

             Memang, orang-orang Madura menunjukkan sikap ramah dan hormat yang tinggi kepada masyarakat Sumbawa. Hal ini terlihat dari penelitian peneliti yang menyatakan bahwa mereka menggunakan bahasa Sumbawa pada saat berintegrasi dan memakai adat Sumbawa pada saat akan terjadinya pernikahan. Sikap hormat ini tentu tambah menyentuh masyarakat Sumbawa yang walaupun sebelumnya memang sudah terbuka bagi kedatangan orang-orang Madura tersebut. Belum lagi terdapatnya kesamaan agama yaitu islam, kesamaan mazhab yaitu mazhab syafi’i dan kesamaan dalam faham ke-NU-an. Disamping hal tersebut, menurut peneliti, terjadinya alculturasi budaya dengan terjadinya perkawinan antara orang-orang Madura dengan orang-orang Sumbawa.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa sikap orang-orang Madura perantauan tersebut yang kompak dilengkapi dengan kegigihan dan rasa hormat kepada masyarakat setempat telah membuat masyarakat Sumbawa yang merupakan masyarakat asli percaya (trust) kepada orang-orang Madura tersebut bahkan menganggap mereka sebagai saudara sendiri. Keberhasilan orang-orang Madura memanfaatkan kepercayaan social (trust) masyarakat Sumbawa membawa mereka pada kenyataan bahwa, meskipun tidak didukung capital manusia yang memadai, sebagian besar keluarga orang Madura di Sumbawa digolongkan sebagai pengusaha-pengusaha kecil yang terampil dan sukses.
Konsep yang terdapat dalam penelitian ini adalah capital social mempengaruhi perkembangan ekonomi komunitas orang Madura di Sumbawa. Peneliti membangun hipotesa bahwa capital social berandil besar dalam perkembangan ekonomi mereka. Dalam hal ini peneliti mengelompokkan capital social menjadi tiga kelompok, yaitu Kapital social Struktural berupa ikatan keluarga dan kerabat , Kapital Sosial Kognitif berupa kepercayaan (trust) dari masyarakat Sumbawa, Kapital social Simbolik berupa produk yang ditekuni oleh orang-orang Madura yaitu soto dan sate Madura yang menjadi symbol korporasi dan identitas kelompok pelaku “Ekonomi Rombong” Madura di Sumbawa.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif berbasis field research dimana peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian selama tiga bulan untuk melakukan penelitian tersebut. Peneliti langsung mewawancarai narasumber yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibuat oleh peneliti. Dalam hal ini peneliti membatasi usia narasumber adalah minimal 45 tahun untuk mengetahui seluk beluk keberadaan orang Madura di Sumbawa, termasuk di dalamnya proses migrasinya ke Sumbawa dan bagaimana masyarakat local memperlakukannya. Adapun untuk mengetahui bagaimana kehidupan social ekonomi orang Madura dan peran capital social di dalamnya tidaklah dibatasi umur. Selanjutnya informan atau narasumber yang dipilih adalah informan yang komunikatif dan tokoh dalam masyarakat.

            Peneliti mendapati adanya kemelekatan(embededness) antara ketiga unsure capital social yang menjadi konsep sebelumnya, yaitu capital social structural, capital social kognitif, dan capital social simbolik. Penjabarannya adalah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa orang Madura di Sumbawa sangat memelihara hubungan kekerabatan dan kekompakan antar sesamanya. Sikap saling membantu menjadi tiang utama dalam hubungan kekerabatan tersebut. Konsep ini disebut dengan capital social structural . Lalu ternyata masyarakat sumbawa yang merupakan masyarakat setempat atau masyarakat asli Sumbawa memberikan kepercayaan kepada orang-orang Madura tersebut. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa kepercayaan ini muncul akibat adanya sikap terbuka dari masyarakat Sumbawa dan sikap hormat yang tinggi dari orang-orang Madura hingga timbullah sikap sepenanggungan bak keluarga sendiri. Hal ini lah yang memunculkan apa yang disebut dengan istilah trust atau capital social kognitif. Setelah diteliti ternyata kedua capital social tersebut berhubungan dengan sesuatu yang disebut capital social simbolik. Dalam hal ini adalah soto dan sate Madura, di mana ternyata soto dan sate Madura itu tidak jauh dari cita rasa orang Sumbawa.

            Peneliti juga menemukan bahwa tidak bisa dipungkiri adanya keterlibatan network, norma, dan trust. Network dalam penelitian ini adalah pengajuan yang dibuat oleh sesepuh maupun penerus tradisi Madura kepada pejabat maupun tokoh-tokoh Madura untuk mendapatkan tempat berdagang yang baik. Norma yang dimaksud dalam hal ini adalah sikap keterbukaan dari masyarakat Sumbawa dan sikap hormat,patuh pada agama, dan gigih yang ditunjukkan oleh orang-orang Madura hingga memuncilkan trust dari masyarakat Sumbawa.

             Pada umumnya penelitian yang dilakukan peneliti cukup bagus dan mudah difahami. Struktur bahasanya sangat sederhana dan menarik bagi pembacanya. Metode yang digunakan pun sangat baik. Namun menurut saya terdapat sedikit kelemahan yaitu seringnya pengulangan pembahasan dari suatu halaman ke halaman yang lain. Bisa jadi hal ini dimaksudkan guna mempertegas permasalahan, namun kurang relevan karena terlalu seringnya pengulangan tersebut. Saran bagi peneliti semoga dapat menutupi kekurangan yang disebutkan.

Wassalamualaikum Wr.Wb.




-Semoga Bermanfaat -